USMAN BIN AFFAN ?
Dewan yang dibentuk oleh Khalifah
beranggotakan enam orang sahabat nabi yang mula-mula masuk Islam; Ali bin Abi
Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin
abi Waqos dan Zubair bin Al-Awwam. Adapun diantara enam orang anggota majlis
syuro, Abdurrahman bin Auf ditunjuk sebagai ketua yang bertanggung jawab
mengambil keputusan terakhir jika musyawarah diantara mereka menemui jalan
buntu.
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya terpilih dua orang calon
khalifah; Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan. Abdurrahman bin Auf
melakukan konsultasi kepada para sahabat nabi, veteran perang dan masyarakat
luas mengenai siapa diantara dua orang calon yang paling layak diangkat menjadi
khalifah ketiga pengganti Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Berdasarkan suara
mayoritas Abdurrahman bin Auf menunjuk Utsman bin Affan untuk menggantikan
Khalifah Umar bin Khattab.
Utsman bin Affan sebagai khalifah terpilih
dihadapkan kepada sebuah perkara yang tidak bisa dianggap mudah. Kekuasaan
negara Islam yang terbentang luas memerlukan perhatian yang ekstra sedangkan
dirinya sudah cukup tua. Utsman bin Affan telah memasuki usia 70 tahun pada
hari pelantikan sebagai khalifah.
Khalifah yang sudah tua mendapat
tantangan dari beberapa daerah yang sebelumnya tunduk dibawah kedaulatan negara
Islam. Diantara daerah yang memberontak adalah Azarbaijan, Armenia dan Iskandariah. Azerbaijanadalah wilayah Persia paling Barat yang
terakhir kali ditaklukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.
Untuk meredam pemberontakan Azerbaijan, Khalifah Utsman bin Affan
mengirim pasukan yang dipimpin oleh Walid bin Uqbah. Pasukan Walid berhasil
menumpas pemberontak, dan Azerbaijan kembali tunduk dibawah
perjanjian damai dengan pihak Muslimin.
Untuk menumpas pemberontakan yang
dilakukan penduduk Armenia, Utsman bin Affan mengutus Habib
bin Maslamah dengan membawa 6000 pasukan. Pasukan Islam ternyata mendapat
perlawanan yang sangat keras dari penduduk Armenia yang dibantu oleh pihak Romawi. Menyadari pasukannya tidak mungkin mampu
mengalahkan lawan, Habib mengirim surat kepada khalifah meminta tambahan pasukan. Walid
bin Uqbah yang masih berada di Azerbaijan, daerah paling dekat ke Armenia mengirim
8000 orang bala bantuan. Dari Kufah sebanyak 6000 tentara dibawah komando
Salman bin Rabiah bergabung bersama Habib di Armenia. Pasukan gabungan muslimin
berhasil mengalahkan pasukan Armenia.
Sementara
pemberontakan Azerbaijan dan Armenia bisa ditanggulangi, Romawi melakukan
perjalanan laut menuju Iskandariah untuk merebut kembali Mesir dari tangan
Islam. Sebanyak 300 kapal lengkap dengan tenaga manusianya berhasil berlabuh di
Iskandariah pada tahun 25 Hijriah. Menyambut kedatangan pasukan Romawi, Amr bin
Ash membawa 15.000 orang prajurit yang berhasil memukul mundur mereka sehingga
Mesir menjadi aman kembali.
Selain berhasil mempertahankan wilayah kedaulatan negara Islam, khalifah
Utsman bin Affan juga berhasil memperluas wilayah muslimin sampai ke Afrika
Utara dari Tunisia sampai Tangier di
Maroko. Pada masa pemerintahan beliau juga untuk pertama kali negara Islam
memiliki armada laut yang dibentuk oleh Muawiyah bin Abi Sofyan. Aksi pertama
dari armada laut Islam adalah menaklukan pulau Cyprus yang dipimpin oleh laksamana Arab pertama, Abdullah bin Qais.
Pembunuhan Khalifah Utsman
BAGAIMANA UTSMAN BISA MENJADI KHALIFAH?
Ketika
Khalifah Umar bin Khattab ditusuk orang, ia telah diberitahu orang-orang bahwa
nama penggantinya sudah dibicarakan orang-orang. Untuk itu Umar berkata pada orang-orang
yang ada di sekitarnya, “Seandainya Abu ‘Ubaydah ibn Al-Jarrah masih
hidup, aku akan mengangkat dia menjadi khalifah penggantiku. Seandainya juga
Salim, budak dari Hudzhaifah, masih hidup. Maka aku akan mencalonkan dia
menjadi khalifah untuk menggantikan diriku.”
Kemudian ia
melanjutkan pembicaraannya kepada orang-orang, “Orang-orang berkata bahwa
pembai’atan Abu Bakar oleh kaum Muslimin itu sebagai sebuah rekayasa dari setan
tapi Allah melindungi kita dari keburukannya. Orang-orang juga berkata bahwa
pengangkatan Umar untuk menjadi khalifah itu kurang konsultasi dan masyarakat
tidak dilibatkan. Maka sekarang setelahku pengangkatan khalifah itu harus
melalui musyawarah (Syura)” (Lihat Shahih Bukhari)
“Aku telah
menentukan bahwa untuk tujuan ini aku akan berkonsultasi dengan sejumlah
Muhajirun. Panggil Ali, Utsman, Thalhah, Zubayr, Abdurrahman bin ‘Auf, dan
Sa’ad bin Abi Waqash. Apabila ada empat orang dari mereka setuju satu nama,
maka yang dua lagi harus setuju dengan yang empat. Dan apabila keputusan mereka
terbelah tiga-tiga, maka kalian harus mengikuti kelompok yang ada Abdurrahman
bin Auf-nya; oleh karena itu dengarkan dia dan patuhi dia…” (Lihat Shahih
Bukhari)
Dari riwayat
yang ada di Shahih Bukhari itu jelaslah sudah bahwa Umar bin Khattab telah menentukan calon khalifahnya
yang akan disebutkan oleh Abdurrahman bin Auf.
Sistem
pemilihan khalifah seperti inilah yang seringkali diambil sebagai cara untuk
memilih pemimpin di kalangan saudara kita Ahlussunnah. Khalifah Umar bin
Khattab menyuruh Abdurrahman bin Auf untuk menyebutkan kriteria-kriteria yang
pantas dan harus dimiliki oleh seorang Khalifah yang nantinya harus dibai’at
oleh kaum Muslimin. Abdurrahman bin Auf menyebutkan bahwa seorang
khalifah baru itu harus mengikuti tindakan dan kebijakan yang telah dijalankan
oleh kedua khalifah sebelumnya (Abu Bakar dan Umar) selain ia harus mengikuti
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Seperti yang sudah
diduga sebelumnya, keenam orang ternama di suku Arab itu terbagi kedalam dua
kelompok masing-masing berisi tiga orang dimana di dalam masing-masing kelompok
ada calonnya sebanyak satu orang calon khalifah.
Kelompok
pertama terdiri dari: Ali sebagai calon khalifah, kemudian Thalhah, dan
Zubayr.Kelompok kedua terdiri dari Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin
Auf, dan Utsman bin Affan sebagai calon khalifah di kelompok ini.
Imam Ali menolak
untuk mengikuti sunnah Abu Bakar dan Umar. Ali hanya akan mengikuti
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta ijtihadnya sendiri. Ali berkata,“Aku
akan mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta Ijtihadku sendiri”(Lihat:
Khalid Muhammad Khalid, Khulafa ‘al-Rasul, halaman 272, edisi ke-8).
Sementara itu Utsman menerima syarat itu. Ia menerima untuk mengikuti sunnah
Abu Bakar dan Umar.
Al-Bukhari
melukiskan dalam kitab Shahih-nya tentang kejadian ini. Bukhari
menyatakan bahwa Al-Hasir ibn Makhramah berkata: “Abdurrahman bin Auf mengetuk
pintu rumahku setelah separuh malam berlalu hingga aku terbangun. Ia berkata,
‘Aku tahu engkau telah tertidur. Demi Allah, kedua mataku ini belumlah
merasakan nikmatnya tidur. Marilah ikut denganku, panggilah Zubayr dan Sa’ad
kehadapanku.’ Aku kemudian memanggil mereka, kemudian ia berbicara dengan
keduanya. Kemudian setelah beberapa saat ia memanggilku dan berkata, ‘Panggilah
Ali kehadapanku.’ Aku kemudian memanggilnya dan meminta kesediaannya untuk
bertemu dengannya (Abdurrahman bin Auf). Ia kemudian berbicara dengan Ali
secara pribadi hingga malam berangsur menuju pagi. Setelah itu Ali meninggalkan
dia dengan raut wajah penuh optimisme. Ia kemudian berkata kepadaku, ‘Sekarang
panggilah Utsman ke hadapanku.’ Dan saya melakukan perintahnya sekali lagi. Ia
berbicara dengan Utsman secara pribadi hingga mu’adzin menyerukan adzhan untuk
shalat shubuh dan akhirnya keduanya memutuskan untuk berpisah.
Setelah shalat
Shubuh, orang-orang yang sama berkumpul di depan mimbar Nabi. Abdurrahman bin
Auf memanggil orang-orang Muhajirin dan Ansar yang hadir pada saat itu. Ia juga
mengirimkan pesan agar para komandan pasukan berkumpul di sana. Para komandan
pasukan ini ialah orang-orang yang sangat setia kepada Umar bin Khattab.
Setelah semuanya berkumpul, Abdurrahman memulai pidatonya dengan dua kalimah
syahadat, kemudian melanjutkan:
“Ya, Ali! Aku telah
meneliti urusan umat ini dan kemudian aku tidak menemukan satu orangpun yang
sebanding dengan Utsman; jadi, janganlah engkau sia-siakan keselamatanmu untuk
engkau korbankan.”
Kemudian ia berkata
kepada Utsman:
“Aku berikan bai’at
kesetiaanku kepadamu sesuai dengan Sunnatulllah dan sunnah Rasulullah dan
sunnah kedua khalifah sebelumnya”
Dengan perkataan
itu Abrurrahman bin Auf memberikan bai’atnya kepada Utsman bin Affan diikuti
oleh orang-orang yang hadir di sana.”
(Lihat:
Al-Bukhari, Shahih, volume 9, halaman 239)
Jelas sekali
terlihat intrik-intrik politik yang telah dibuat oleh Umar bin Khattab. Umar
telah memperkirakan sebelumnya bahwa Ali tidak akan pernah setuju dengan syarat
yang diajukan oleh Abdurrahman bin Auf yaitu syarat bahwa khalifah selanjutnya
itu selain berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, juga berpegang pada
sunnah kedua khalifah sebelumnya. Umar tahu calon yang lain pasti setuju
apabila itu diajukan kepada mereka demi untuk mendapatkan jabatan khalifah,
akan tetapi Ali senantiasa setia pada Islam dan bukan sunnah kedua khalifah
sebelumnya yang sering menunjukkan pertentangannya dengan Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah.
Umar tahu bahwa
Thalhah dan Zubayr akan memilih Ali karena Umar melihat mereka berada di sisi
Ali ketika terjadi peristiwa Saqifah yang mengantarkan Abu Bakar ke tampuk
khilafah lewat intrik politik yang dibuat oleh Umar. Selain itu syarat yang
diajukan oleh Umar yaitu apabila kelompok yang terdiri dari enam orang itu
terpecah menjadi dua bagian yang sama, maka pihak yang ada Abdurrahman bin Auf
lah yang boleh menentukan syarat menjadi khalifah. Ini menunjukkan
dengan jelas sekali bahwa ada Intrik politik yang sedang dijalankan demi
mencapai tujuan memenangkan kekhalifahan. Inilah SYURA yang
telah mereka sebut-sebut itu……………………………
ALASAN
MEREKA MEMBUNUH UTSMAN
Banyak sekali
pernyataan yang simpang siur atas terbunuhnya Utsman bin Affan. Banyak sekali
riwayat dan pernyataan yang saling berbenturan terutama ketika membicarakan
tentang kelompok mana yang menggalang masa untuk membunuh Utsman; terus alasan
apa yang mereka gunakan untuk membenarkan tindakan mereka itu; dan apa yang
membuat mereka bersegera untuk melakukan itu hingga akhirnya Utsman terbunuhlah
sudah................................... ………………………
Penjelasan yang
paling masuk akal untuk menjelaskan mengapa Utsman dibunuh oleh
mereka ialah karena Utsman seringkali bertindak nepotis dengan mengangkat
para gubernur provinsi dari kalangan kerabatnya selain itu Utsman seringkali
memberikan uang yang berasal dari Baytul Mal untuk diberikan kepada kerabatnya.
Tindakan Utsman yang nepotis dan korup ini mengundang kritik tajam dan
pemberontakan di sana sini untuk melengserkan Utsman.
Tangan-tangan rakus
dari karib kerabat Utsman bin Affan (yang berasal dari suku Bani Umayyah) yang
menjarah harta yang ada di Baytul Mal sesuka hati mereka menyebabkan orang
berpikir bahwa rezim Bani Umayyah itu sebenarnya dimulai ketika Utsman menjabat
khilafah dan dibai’at oleh semua orang dari suku Bani Umayyah.
Abu Sufyan sebagai
pemuka suku Bani Umayyah berkata sebagai berikut ketika Utsman resmi dibai’at
sebagai khalifah baru, “Ya, Banu Umayyah! Ambillah khilafah ini dan mainkanlah
seperti kalian memainkan bola, karena demi dia yang Abu Sufyan bersumpah atas
namanya, aku sangat yakin kalian akan mendapatkannya, dan itu akan diperoleh
oleh keturunanmu secara turun temurun.” (Lihat: Al-Tabari, Tarikh,
Al-Mas’udi, Ibn Al-Athir, Al-Isti’ab).
Menurut riwayat
lainnya atas pernyataan yang sama, Abu Sufyan dilaporkan berkata, “Terimalah
itu (khilafah) seperti ketika engkau menerima sebuah bola, karena aku yakin
tidak ada surga maupun neraka…………” (Lihat: Ibn Al-Athir, Al-Mas’udi,
Al-Tabari, Tarikh).
Diantara mereka
yang menentang kekuasaan Utsman ialah mereka yang berasal dari kalangan sahabat
yang ternama. Yang paling terkenal diantara mereka ialah Abu Dzar al-Ghifari
(semoga Allah meridhoinya), kemudian Abdullah bin Mas’ud, dan Ammar bin Yasir.
Utsman sangat membenci mereka ini dan memberikan hukuman yang keras terhadap
mereka. Seperti misalnya, Abu Dzar, yang harus menemui kematiannya di sebuah
gurun bernama Al-Rabathah karena ia telah melontarkan protes keras atas
penunjukkan Mu’awiyyah sebagai gubernur provinsi Syiria (kemudian akhirnya kelak
Mu’awiyyah mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa mutlak atas negeri Syria).
Abu Dzar sangat membenci kebiasaan Mu’awiyyah yang mengambil timbunan emas dan
uang yang merupakan milik dari umat Islam secara keseluruhan.
Zayd bin Wahbah
berkata, “Aku melewati gurun Al-Rabathah dan melihat Abu Dzar di sana, semoga
dia diridhoi oleh Allah, kemudian aku bertanya kepadanya, “Ya, Abu Dzar! Apakah
yang membawamu ke tempat ini (hingga engkau menderita seperti ini)?” Kemudian
Abu Dzar menjawab, “Aku dulu berada di Syiria dan aku bertengkar dengan
Mu’awiyyah tentang sebuah ayat yang berbunyi:
“Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim
Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan
yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan
orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan
Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa
yang pedih” (QS.
At-Taubah: 34)
Mu’awiyyah berkata
bahwa ayat ini hanya diturunkan berkenaan dengan orang-orang Ahlul Kitab
(Yahudi dan Nasrani). Sementara itu aku bilang bahwa ayat ini juga diturunkan
untuk kita dan mereka; setelah itu terjadilah pertentangan antara kami berdua.
Ia akhirnya menulis surat kepada Utsman mengeluhkan tentang aku. Kemudian
Utsman menyuratiku memerintahkan diriku agar datang ke Madinah. Lalu aku pergi
ke sana. Orang-orang berdatangan untuk melihatku seolah-olah mereka belum
pernah melihatku sebelumnya, kemudian aku juga menyebutkan hal ini kepada
Utsman. Ia berkata kepadaku, ‘Kalau engkau mau, engkau bisa tinggal jauh di
sekitar sini’. Ini lah yang membuatku berada di tempat ini. Seandainya mereka
mengutus seorang Ethiopia untuk menjabat sebagai seorang pemimpin (amir), maka
aku mungkin akan mendengarkan dia dan mematuhi dia.” (Lihat: Al-Bukhari, Shahih,
volume 2, halaman 278, dalam bab zakat).
Sementara itu
Abdullah bin Mas’ud yang dipasrahi jabatan untuk mengawasi dan mengurus Baytul
Mal di Kufah (Irak) mendapatkan perlakuan yang jauh lebih buruk. Beberapa
tulang iganya patah karena dipukuli oleh budak-budak Utsman bin Affan sebagai
hukuman yang harus ia terima karena ia berkeberatan atas tindakan Al-Walid bin
Mu’it (saudara seibu dari Utsman bin Affan yang diangkat oleh Utsman untuk
mengurus kota Kufah menggantikan posisi Sa’ad bin Abi Waqash). Abdullah bin
Mas’ud keberatan terhadap Al-Walid bin Mu’it karena ia suka mengambil uang dari
kaum Muslimin (dari Baytul Mal) dan kemudian tidak mengembalikan lagi ke kas
baytul mal. (Lihat: Al-Balathiri, Ansab al-Ashraf, Al-Waqidi.
Al-Ya’qibi, Tarikh).
Sedangkan Ammar bin
Yasir, ia menderita sakit hernia setelah dipukuli oleh budak beliannya Utsman
sebagai hukuman karena Ammar bin Yasir mendirikan shalat jenazah atas jenazah
Abdullah bin Mas’ud tanpa memberitahu Utsman terlebih dahulu. Sebenarnya Ammar
bin Yasir melakukan itu untuk menghormati Abdullah bin Mas’ud supaya khalifah
Utsman tidak usah lagi menshalati jenazah Abdullah bin Mas’ud. (Lihat: Ibn
Abul-Hadid,Sharh Nahjul Balaghah)
Masih banyak lagi
orang-orang yang tidak setuju dengan keborosan karib kerabat dari khalifah
Utsman yang semuanya berasal dari Bani Umayyah. Orang-orang tidak setuju dengan
kebiasaan kaum Bani Umayyah yang mengambil harta kaum Muslimin yang dikumpulkan
di Baytul Mal. Marwan bin Hakam, misalnya, pernah mengambil seperlima harta
dari pajak khiraj dari Afrika. Masih banyak lagi cerita atau
kisah tentang hal ini yang bisa anda baca dalam buku berjudul Khilafah
wa Mulukiyyah (Khilafah dan Kerajaan).
Sumber pustaka:
The Truth about
The Shi’ah Ithna-asheri faith,
As’ad Wahid al-Qasim
Akhirnya
Kutemukan Kebenaran, DR.
Muhammad Al-Tijani Al-Samawi
SAQIFAH, Suksesi
Sepeninggal Rasulullah Saw, O.
Hashem
SEBELUM UTSMAN DIBUNUH
Satu tahun sebelum
Utsman dibunuh, orang-orang Kufah, Basrah dan Mesir bertemu di Masjidil
Haram, Mekah. Pemimpin kelompok Kufah adalah Ka’ab bin Abduh, pemimpin
kelompok Basrah adalah Al-Muthanna bin Makhrabah Al-‘Abdi dan pemimpin kelompok
Mesir adalah Kinanah bin Basyir bin Uttab bin Auf As-Sukuni kemudian hari
diganti oleh At-Taji’i. Beberapa kelompok dari mereka ialah:
KELOMPOK
KELUARGA YANG DILALIMI KHALIFAH: Sa’ad
bin Musayyib menceritakan adanya keluarga Banu Hudzail dan Banu
Zuhrahyang merasa sakit hati atas perbuatan Utsman terhadap ‘Abdullah bin
Mas’ud, karena Ibnu Mas’ud berasal dari kedua klan ini. Yang tergabung
kedalam kelompok ini adalah mereka yang anggota keluarganya mendapatkan
perlakuan buruk dari Utsman bin Affan seperti keluarga Banu Taim yang
membela Muhammad bin Abu Bakar; keluarga Banu Ghifari yang membela Abu
Dzar; keluarga Banu Makhzum yang membela ‘Ammar bin Yasir dll. Mereka
semua mengepung rumah khalifah Utsman dan menuntut khalifah memecat
Sekretaris Negara, Marwan bin Hakam.
KELOMPOK
PENDUDUK BASRAH: Kemudian
dari Basrah datang ke Madinah sekitar 150 orang. Yang tergabung kedalam
kelompok ini adalahDzarih bin Ubbad Al-‘Abdi, Basyir bin Syarih Al-Qaisi, dan
Ibnu Muharrisy. Malah menurut Ibnu Khaldun jumlah mereka sama banyaknya
dengan jumlah pendatang Mesir yaitu sekitar 1,000 orang, dan terbagi
kedalam 4 kelompok.
KELOMPOK
KUFAH: Dari Kufah datang 200
orang yang dipimpin Asytar. Ibnu Qutaybah mengatakan kelompok Kufah terdiri
dari 1,000 orang dalam 4 kelompok. Pemimpin masing-masing kelompok
adalah Zaid bin Suhan al-‘Abdi, Ziyad bin an-Nashr al-Haritsi, ‘Abdullah
bin al-‘Ashm al-‘Amiri dan ‘Amr bin al-Ahtam.
KELOMPOK
MESIR: Dari Mesir
datang 1,000 orang (ada yang mengatakan hanya 400 orang, atau 500
orang, atau 700 orang, atau 600 orang. Menurut Ibn Abil-Hadid 2,000
orang). Dalam kelompok ini terdapat Muhammad bin Abi Bakar, Sudan
bin Hamran as-Sukuni, ‘Amr bin Hamaq al-Khaza’i. Mereka dibagi dalam empat
kelompok masing-masing dipimpin oleh ‘Amr bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i,
‘Abdurrahman bin ‘Adis Abu Muhammad al-Balwi, ‘Urwah bin Sayyim bin al-Baya’
al-Kinani al-Laitsi, dan Kinanah bin Basyir Sukuni at-Tajidi. Mereka semua
berkumpul di sekitar‘Amr bin Badil al-Ghaza’i, seorang sahabat Rasulullah,
dan‘Abdurrahman bin ‘Adis al-Tajibi.
KELOMPOK
MADINAH: Mereka disambut oleh
kelompok Madinah yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar
seperti ‘Ammar bin Yasir al-‘Abasi, seorang pengikut perang
Badar, Rifaqah bin Rafi’ al-Anshari, pengikut Perang
Badar, al-Hajjaj bin Ghaziah seorang sahabat Rasulullah, Amir
bin Bakir, seorang dari Banu Kinanah dan pengikut Perang Badar, Thalhah
bin Ubaydillah dan Zubayr bin Awwam, peserta Perang Badar. Lihat referensi
berikut ini:
Ibnu
Sa’ad, Thabaqat, jilid 3, halaman 49
Baladzuri, al-Ansab
al-Asyraf, jilid 5, halaman 26, 59
Ibnu
Qutaybah, al-Imamah wa’s-Siyasah, jilid 1, halaman 34
Ibnu
Qutaybah, al-Ma’arif, halaman 84
Thabari, Tarikh,
jilid 5, halaman 116
Muruj
adz-Dzahab, jilid
1, halaman 441
Ibnu
‘Abd Rabbih, al-‘Iqd al-Farid, jilid 2, halaman 262, 263, 269
Muhibbudin
Thabari, Ar-Riyadh an-Nadhirah, jilid 2, halaman 123, 124
Ibnu
Atsir, al-Kamil, jilid 3, halaman 66
dll.
‘AISYAH
BERKATA: “BUNUH NA’TSAL, SESUNGGUHNYA IA TELAH KAFIR!”
Sejarah telah
mencatat bahwa Ummul
Mukminin ‘Aisyah, bersama Thalhah, Zubayr dan anaknya Abdullah bin
Zubayr, telah melancarkan peperangan terhadap khalifah yang sah, Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib, yang memakan korban hingga lebih dari
20,000 orang, dengan alasan untuk menuntut darah Utsman bin Affan (jadi
mereka menyalahkan orang yang sama sekali tidak bersalah!).
Padahal Ummul
Mukminin ‘Aisyah adalah pelopor dalam melawan ‘Utsmandengan mengatakan
bahwa Utsman telah kafir.
Thalhah menahan
pengiriman air minum kepada Utsman, tatkala rumah khalifah yang ketiga itu
dikepung ‘para pemberontak’ yang datang dari daerah-daerah.
Zubayr menyuruh
orang membunuh Utsman pada waktu rumah khalifah itu sedang dikepung. Orang
mengatakan kepada Zubayr: “Anakmu sedang menjaga di pintu, mengawal (Utsman).”
Zubayr menjawab: “Biar aku kehilangan anakku tetapi Utsman harus dibunuh!”
(Lihat: Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahju-l-Balaghah, jilid 6, halaman
35—36).
Zubayr dan Thalhah
juga adalah orang-orang yang pertama membai’at Ali.
Khalifah Utsman
mengangkat Walid bin Uqbah, saudara seibunya jadi Gubernur di Kufah. Ayahnya
Uqbah pernah menghujat Rasulallah di depan orang banyak, dan kemudian dibunuh
oleh Ali bin Abi Thalib. Walid sendiri dituduh sebagai pemabuk dan
menghambur-hamburkan uang baitul mal. Ibnu Mas’ud (Abu
Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud), seorang sahabat terkemuka, yang ikut Perang
Badar, yang mengajar Al-Qur’an dan agama di Kufah, penanggung jawab baytul
mal, menegur Walid. Walid mengirim surat kepada Utsman mengenai Ibnu
Mas’ud. Utsman memanggil Ibnu Mas’ud menghadap Madinah.
Baladzuri menulis:
“ ‘Utsman sedang
berkhotbah di atas mimbar Rasulullah. Tatkala Utsman melihat Ibnu Mas’ud datang
ia berkata: ‘Telah datang kepadamu seekor kadal (duwaibah) yang
buruk, yang kerjanya mencari makan malam hari, muntah dan berak!’.
Ibnu Mas’ud
menjawab: ‘Bukan begitu, tetapi aku adalah sahabat Rasulullah pada perang
Badar dan bai’at ar-ridwan’ (Ibnu Mas’ud sengaja menyebutkan kedua
peristiwa ini karena Utsman memang tidak pernah hadir dalam kedua peristiwa
itu—red)
‘Aisyah berteriak:
‘Hai Utsman, apa yang kau katakan terhadap sahabat Rasulullah ini?’
Utsman naik pitam
dan berteriak: ‘Diam engkau!’
Dan kemudian Utsman
memerintahkan mengeluarkan Ibnu Mas’ud dari Masjid dengan kekerasan. Abdullah
bin Zam’ah, pembantu Utsman, membanting Ibnu Mas’ud ke tanah. Kemudian ia
menginjak tengkuk Ibnu Mas’ud secara bergantian dengan kedua kakinya hingga
rusuk Ibnu Mas’ud patah.
Marwan bin Hakam
berkata kepada Utsman: ‘Ibnu Mas’ud telah merusak Irak, apakah engkau ingin ia
merusak Syam juga?’ Dan Ibnu Mas’ud ditahan dalam kota Madinah sampai ia
meninggal dunia tiga tahun kemudian. Sebelum mati ia membuat wasiat agara Ammar
bin Yasir menguburkannya diam-diam, yang kemudian membuat Utsman marah.
Karena Utsman
sering menghukum saksi pelanggaran agama oleh pembantu-pembantunya, timbullah
gejolak di Kufah. Orang menuduh Utsman sering menghukum saksi dan
membebaskan tertuduh (Lihat: Ibnu Abd al-Barr, Kitab al-Istiab fi
Ma’rifati ‘l-Ashhab, dalam pembicaraan Ibnu Mas’ud; lihat juga
Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya bin Jabir, Ansab al-Asyraf, jilid 5,
halaman 35).
Abu’l-Faraj
menulis: “Berasal dari az-Zuhri yang berkata: ‘Sekelompok orang
Kufah menemui Utsman pada masa Walid bin Uqbah menjadi gubernur. Maka
berkatalah Utsman: ‘Bila seorang diantara kamu marah kepada pemimpinnya, maka
dia lalu menuduhnya melakukan kesalahan, besok aku akan menghukum
dirimu.’ Dan mereka meminta perlindungan ‘Aisyah. Besoknya Utsman mendengar
kata-kata kasar mengenai dirinya keluar dari kamar ‘Aisyah, maka Utsman
berseru: ‘Orang Iraq yang tidak beragama dan fasik-lah yang mengungsi di rumah
‘Aisyah'.’ Tatkala ‘Aisyah mendengar kata-kata Utsman ini, ia mengangkat sandal
Rasulullah, dan berkata: ‘Anda meninggalkan sunnah Rasulullah, pemilik sandal
ini!’ Orang-orang mendengarkan. Mereka datang memenuhi masjid. Ada yang
berkata, “Dia betul” dan ada yang berkata, “Bukan urusan perempuan!” . Akhirnya
mereka baku hantam dengan sandal. (Lihat: Abu’l-Faraj al-Isfahani, al-AghaniI, jilid
4, halaman 18)
Baladzuri menulis:
“Aisyah mengeluarkan kata-kata kasar yang ditujukan kepada Utsman dan Utsman
membalasnya: ‘Apa hubungan anda dengan ini?’ ‘Anda diperintahkan agar diam di
rumahmu (maksudnya ialah firman Allah yang memerintahkan isteri Rasul agar
tinggal di rumah:
“…dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat…………” (QS. AL-Ahzab: 33).
Dan ada kelompok yang berucap seperti Utsman, dan yang lain berkata: ‘Siapakah yang lebih utama dari ‘Aisyah?’ Dan mereka baku hantam dengan sandal, dan ini pertama kali perkelahian antara kaum Muslimin, sesudah Nabi wafat. (Lihat: Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jilid 5, halaman 18)
Tatkala khalifah
Utsman sedang dikepung oleh “pemberontak” yang datang dari Mesir, Basrah, dan
Kufah, ‘Aisyah naik haji ke Mekah.
Thabari
menulis: “Seorang laki-laki bernama Akhdhar (datang dari Madinah) dan
menemui ‘Aisyah”
Aisyah: “Apa yang
sedang mereka lakukan?”
Akhdhar: “Utsman
telah membunuh orang-orang Mesir itu!”
Aisyah:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Apakah ia membunuh kaum yang datang
mencari hak dan mengingkari dzalim? Demi Allah, kita tidak rela akan
(peristiwa) ini.
Kemudian seorang
laki-laki lain (datang dari Madinah).
Aisyah: “Apa yang
sedang dilakukan oleh orang itu?”
Laki-laki itu
menjawab: “Orang-orang Mesir telah membunuh Utsman!”
Aisyah: “Ajaib
si Akhdhar. Ia mengatakan bahwa yang terbunuhlah yang membunuh” Sejak saat
itulah muncul peribahasa, “LEBIH BOHONG DARIPADA SI AKHDHAR” (Lihat:
Thabari, Tarikh, jilid 5, halaman 166)
Abu Mikhnaf Luth
al-‘Azdi menulis: ‘Aisyah berada di Mekah tatkala mendengar terbunuhnya Utsman.
Ia segera kembali ke Madinah dalam keadaan tergesa-gesa. Dia berkata: “Dialah
PEMILIK JARI” (Dzul Ishba, gelar Thalhah bin Ubaydillah, karena beberapa
jarinya buntung di perang Uhud). Demi Allah, mereka akan mendapatkan kecocokan
pada Thalhah. Dan tatkala Aisyah berhenti di Sarf (Sarf, suatu tempat sekitar
10 km jauhnya dari kota Mekah), ia bertemu dengan Ubaid bin Abi Salmah
al-Laitsi.
Aisyah berkata:
“Ada berita apa?”
Ubaid menjawab:
“Utsman dibunuh”
Aisyah: “Kemudian
bagaimana?”
Ubaid: “Kemudian
mereka telah menyerahkan kepada orang yang paling baik, mereka telah membai’at
Ali”
Aisyah: “Aku lebih
suka langit runtuh menutupi bumi! Selesailah sudah! Celakalah anda! Lihatlah
apa yang anda katakan!.
Ubaid: “Itulah yang
saya katakan pada anda, ya ummul mukminin”
Maka merataplah
Aisyah
Ubaid: “Ada apa,
ya ummul mukminin! Demi Allah, aku tidak mengetahui ada yang lebih
utama dan lebih baik dari dirinya. Dan aku tidak mengetahui orang yang sejajar
dengannya, maka mengapa anda tidak menyukai wilayah-nya?”
Aisyah tidak
menjawab.
Dengan jalur yang
berbeda-beda diriwayatkan pula bahwa Aisyah tatkala sedang berada di kota
Mekah, mendapatkan berita tentang pembunuhan Utsman, ia berkata:
“Mampuslah dia (ab’adahu
‘llah)! Itulah hasil kedua tangannya sendiri! Dan Allah tidak dzalim
terhadap hambaNya!”
Dan diriwayatkan
bahwa Qais bin Abi Hazm naik haji pada tahun Utsman dibunuh. Tatkala
berita pembunuhan sampai, ia berada bersama Aisyah dan menemaninya pergi
ke Madinah. Dan Qais berkata: “Aku mendengar ia telah berkata:
‘Dialah si PEMILIK
JARI!’
Dan tatkala disebut
nama Utsman, ia berkata:
‘Mampuslah dia!’
Dan waktu mendapat
kabar dibai’atnya Ali, ia berkata:
‘Aku ingin yang itu
(sambil menunjuk ke langit) runtuh menutupi yang ini (sambil menunjuk ke
bumi)’”
Ia lalu
memerintahkan agar unta tunggangannya di kembalikan ke Mekah dan aku kembali
bersamanya. Sampai di Mekah ia berkhotbah kepada dirinya sendiri, seakan-akan
ia berbicara kepada seseorang.
‘Mereka telah
membunuh Ibnu Affan (Utsman) dengan dzalim’.
Dan aku berkata
kepadanya: ‘Ya Ummul mukminin! Tidakkah aku mendengar baru saja
anda telah berkata, “Ab’adahu-llah!”?”
‘Dan aku melihat
engkau sebelum ini paling keras terhadapnya dan mengeluarkan kata-kata buruk
untuknya!”
Aisyah menjawab,
“Betul demikian, tetapi aku telah mengamati masalahnya dan aku melihat mereka
meminta agar dia bertobat………….kemudian setelah ia bertobat mereka membunuhnya
pada bulan haram’
Dan diriwayatkan
dalam jalur lain bahwa tatkala sampai kepadanya berita terbunuhnya Utsman
ia berkata:
“Mampuslah dia! Ia
dibunuh oleh dosanya sendiri. Mudah-mudahan Allah menghukumnya dengan hasil
perbuatannya (aqadahu-llah)! Hai kaum Qurays, janganlah kamu berlaku
sewenang-wenang terhadap pembunuh Utsman, seperti yang dilakukan kepada kaum
Tsamud! Orang yang paling berhak akan kekuasaan ini adalah Si Pemilik
Jari!”
Dan tatkala sampai
berita pembaiatan terhadap Ali, ia berkata:
“Habis sudah, habis
sudah (ta’isa), mereka tidak akan mengembalikan kekuasaan kepada (Banu)
Taim untuk selama-lamanya!”
Dan jalur lain
lagi: “Kemudian ia kembali ke Madinah dan ia tidak ragu lagi bahwa Thalhah-lah
yang akan memegang kekuasaan (khilafah) dan ia berkata:
‘(Allah) menjauhkan
dan membinasakan si Na’tsal. Dialah si Pemilik Jari! (maksudnya Thalhah)
Itu dia si Abu Syibl! (Julukan dari Thalhah yang berarti ‘ayah dari
anak singa’), dialah misanku! Demi Allah, mereka akan menemukan pada Thalhah
kepantasan untuk kedudukan ini. Seakan-akan aku sedang melihat ke jarinya
tatkala ia dibai’at! Bangkitkan unta ini dan segera berangkatkan
dia!” (Lihat: Ibn Abil-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 4,
halaman 215, 216).
Dan tatkala ia
berhenti di Sarf dalam perjalanan ke Madinah ia bertemu dengan Ubaid bin
Umm Kilab (Ubaid bin Umm Kilab adalah orang yang sama dengan Ubaid bin Abi
Salamah al-Laitsi)
Ubaid berkata:
“Mereka membunuh Utsman, dan delapan hari tanpa pemimpin!”
Aisyah: “Kemudian
apa yang mereka lakukan?”
Ubaid berkata: “Penduduk
Madinah secara bulat (bi-l-ijma) telah menyalurkan ke
jalan yang terbaik, mereka secara bulat telah memilih Ali bin Abi
Thalib”.
Aisyah berkata:
“Kekuasaan jatuh ke tangan sahabatmu! Aku ingin yang itu runtuh menutupi yang
ini! Lihatlah apa yang kamu katakan!”
Ubaid menjawab:
“Itulah yang aku katakan, ya ummul mukmini”
Maka merataplah
Aisyah.
Ubaid
melanjutkan: “Ada apa dengan anda, ya ummul mukminin? Demi
Allah! Aku tidak menemukan antara dua daerah berlafa gunung berapi (maksudnya
Madinah) ada satu orang yang lebih utama dan lebih berhak dari dia. Aku juga
tidak melihat orang yang sama dan sebanding dengannya, maka mengapa anda tidak
menyukai wilayah-nya?”
Ummul mukiminin berteriak: “Kembalikan aku,
kembalikan aku”, dan ia lalu berangkat ke Mekah. Dan ia berkata: ‘Demi
Allah, Utsman telah dibunuh secara dzalim. Demi Allah, kami akan menuntut
darahnya!”
Ibnu
Ummu’l-Kilab berkata kepada Aisyah: “Mengapa, Demi Allah,
sesungguhnya orang yang pertama mengamati pekerjaan Utsman adalah anda, dan anda
telah berkata: “BUNUHLAH SI NA’TSAL! IA TELAH KAFIR!
Aisyah
berkata: “Mereka minta ia bertobat dan mereka membunuhnya. Aku telah
bicara dan mereka juga telah bicara. Dan perkataanku yang terakhir lebih baik
daripada perkataanku yang pertama”
Ibnu Ummu-l- Kilab
kemudian bersyair:
Dari
anda bibit disemai
Dari
anda kekacauan dimulai
Dari
anda datangnya badai
DAri
anda hujan berderai
Anda
suruh bunuh sang imam
Ia
‘lah kafir, anda yang bilang
Jika
saja kami patuh
Ia
tentu kami bunuh
Bagi
kami pembunuh adalah penyuruh
Tidak
akan runtuh loteng di atas kalian
Tidak
akan gerhana matahari dan bulan
Telahh
dibaiat orang yang agung
Membasmi
penindas, menekan yang sombong
Ia
selalu berpakaian perang
Penepat
janji, bukan pengingkar
Menurut
Mas’udi (Lihat: Muruj adz-Dzaha, jilid 2, halaman 9)
Dari
anda datang tangis
Dari
anda datang ratapan
Dari
anda datangnya topan
Dari
anda tercurah hujan
Anda
perintah bunuh sang imam
Pembunuh
bagi kami adalah penyuruh
Dan Utsman telah
terbunuh…………………Para pembunuhnya telah mengepung rumah Utsman dan memotong
suplai air agar ia meletakkan jabatan. Para ahli sejarah juga mencatat
bahwa mayat Utsman dilarang oleh para sahabat lain dikebumikan di pekuburan
Muslim. Akhirnya ia dikebumikan di pekuburan Hash Kaukab (sebuah pekuburan Yahudi
yang letaknya tidak begitu jauh dari pekuburan Muslimin di Baqi Madinah).
Utsman dikuburkan tanpa dimandikan dan tanpa dikafani.
Pekuburan Hash
Kaukab itu akhirnya dibeli oleh pemerintah pada saat Mu’awiyyah yang satu suku
dengan Utsman (Bani Umayyah) mengangkangi kursi khilafah. Dan kemudian
pekuburan itu disatukan dengan pekuburan Baqi. Tapi tetap kita bisa melihat
betapa kuburan Utsman itu letaknya jauh sekali dari kuburan khalifah sebelumnya
seperti kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kaum Muslimin pada waktu itu
enggan menguburkan Utsman berdampingan dengan kuburan khalifah sebelumnya
padahal sebagai seorang Khalifah sudah selayaknya ia mendapatkan
prioritas—dikubur bersebelahan dengan Nabi.
Rupanya letak
kuburan Utsman itu menyisakan misteri selain pembelajaran kepada kaum Muslimin
hingga sekarang.
Fathu al Bâri,19398
http://syiahali.wordpress.com/2012/02/14/kata-ulama-sunni-siti-aisyah-ra-mengandalkan-kaum-waria-untuk-memilihkan-calon-istri-bagi-saudaranya/
.
Di penghujung bulan Shafar tahun 11 hijriyah, Nabi SAW menerima panggilan Sang Khalik untuk menghadap-nya. Beliau wafat meninggalkan umatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Umat Islam bagai anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka. Untuk itulah sejumlah orang berkumpul di sebuah balairung yang disebut dengan nama Saqifah bani Saidah.Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah orang Anshar dan beberapa orang muhajirin. Meski sempat terjadi keributan, pertemuan itu menghasilkan keputusan mengangkat Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah untuk memerintah atas umat.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di saat jenazah suci Rasulullah SAW belum dimakamkan, cukup mengejutkan bagi para sahabat yang lain. Sebagian dari mereka masih meyakini bahwa Rasul sudah menjelaskan siapakah yang bakal menjadi penerus beliau. Namun segala penentangan terhadap keputusan itu tidak membuahkan hasil apapun.
Hubungan yang terjalin antara Aisyah; istri Nabi saw. dan Utsman; Khalifah ketiga berjalan wajar-wajar saja, tidak ada ketegangan! Bahkan tampak harmonis, akrab dan saling mendukung! Terpilihnya Utsman sebagai Khalifah ketiga dalam sebuah sandiwara Syûrâ Sudâsi [1] dilihat oleh banyak kelompok sahabat Quraisy dan suku-suku yang berkualisi dengannya sebagai kelanjutan dari kekhalifahan dua Khalifah sebelumnya. Pandangan Siti Aisyah tidak jauh dari pandangan umum partai Quraisy!
Tetapi kemudian sejarah mencatat terjadinya ketegangan hubungan antara Siti Aisyah dan Khalifah Utsman bahkan lebih dari itu ketegangan merembet kepada retaknya hubungan antara keluarga Utsman dan keluarga besar Abu Bakar! Tidak diketahui persis sejak kapan keretakan hubungan itu terjadi. Tapi sangat kuat dugaan bahwa ia mulai terjadi di paroh kedua masa kekhalifahan Utsman yaitu setelah enam tahun Utsman berkuasa!
Utsman yang tadinya banyak dipuji Aisyah dengan seperti “Utsman sebagai seorang yang malaikat saja malu, mengapa aku –kata Nabi saw. dalam hadis riwayat Siti Aisyah- tidak harus malu kepadanya”[2], dan banyak pujian lainnya yang dapat kita temukan dalam riwayat-riwayat yang ditebar oleh Siti Aisyah ra.
.
Di penghujung bulan Shafar tahun 11 hijriyah, Nabi SAW menerima panggilan Sang Khalik untuk menghadap-nya. Beliau wafat meninggalkan umatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Umat Islam bagai anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka. Untuk itulah sejumlah orang berkumpul di sebuah balairung yang disebut dengan nama Saqifah bani Saidah.Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah orang Anshar dan beberapa orang muhajirin. Meski sempat terjadi keributan, pertemuan itu menghasilkan keputusan mengangkat Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah untuk memerintah atas umat.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di saat jenazah suci Rasulullah SAW belum dimakamkan, cukup mengejutkan bagi para sahabat yang lain. Sebagian dari mereka masih meyakini bahwa Rasul sudah menjelaskan siapakah yang bakal menjadi penerus beliau. Namun segala penentangan terhadap keputusan itu tidak membuahkan hasil apapun.
Hubungan yang terjalin antara Aisyah; istri Nabi saw. dan Utsman; Khalifah ketiga berjalan wajar-wajar saja, tidak ada ketegangan! Bahkan tampak harmonis, akrab dan saling mendukung! Terpilihnya Utsman sebagai Khalifah ketiga dalam sebuah sandiwara Syûrâ Sudâsi [1] dilihat oleh banyak kelompok sahabat Quraisy dan suku-suku yang berkualisi dengannya sebagai kelanjutan dari kekhalifahan dua Khalifah sebelumnya. Pandangan Siti Aisyah tidak jauh dari pandangan umum partai Quraisy!
Tetapi kemudian sejarah mencatat terjadinya ketegangan hubungan antara Siti Aisyah dan Khalifah Utsman bahkan lebih dari itu ketegangan merembet kepada retaknya hubungan antara keluarga Utsman dan keluarga besar Abu Bakar! Tidak diketahui persis sejak kapan keretakan hubungan itu terjadi. Tapi sangat kuat dugaan bahwa ia mulai terjadi di paroh kedua masa kekhalifahan Utsman yaitu setelah enam tahun Utsman berkuasa!
Utsman yang tadinya banyak dipuji Aisyah dengan seperti “Utsman sebagai seorang yang malaikat saja malu, mengapa aku –kata Nabi saw. dalam hadis riwayat Siti Aisyah- tidak harus malu kepadanya”[2], dan banyak pujian lainnya yang dapat kita temukan dalam riwayat-riwayat yang ditebar oleh Siti Aisyah ra.
Awal Keretakan Hubungan Antara Siti Aisyah ra Dan
Khalifah Utsman!
Data-data sejarah
melaporkan bahwa ketegangan antara kedua tokoh ini dipicu oleh dikuranginya
gaji atau uang negara yang biasanya diberikan untuk Aisyah di masa kedua
Khalifah sebelum Utsman yaitu Abu Bakar; ayah Aisyah sendiri dan Umar sebagai
penggantinya yang mengistimewakan Aisyah dan Hafshah putri Umar lebih dari
istri-istri Nabi lainnya! Al Ya’qubi dan Ibnu A’tsum melaporkan: “Antara
Utsman dan Aisyah terjadi ketegangan. Hal itu disebabkan Utsman mengurangi
jatah santunan negara dari jumlah yang dahulu diberikan oleh Umar bin
Khaththab. Utsman menyamakan santunan yang diberikan untuk Aisyah sama dengan
yang diberikan kepada istri-istri Nabi lainnya.”[3]
Setelah itu ketegangan terus memanas. Siti Aisyah menjadi tempat mengadu dan berlindung para sahabat dan tabi’in yang beroposisi dengan Utsman hingga pada akhirnya Utsman terbunuh! Sejarah mencatat bahwa tidak ada keluarga yang paling keras penentangannya terhadap Khalifah Utsman melebihi bani Taim; keluarga Abu Bakar!
Puncak Ketegangan dan Perseteruan antara Utsman Dan Aisyah!
Banyak ketidak-puasan terhadap pemerintahan Utsman yang mengarah kepada ketegangan antara para penuntut keadilan dan Khalifah Utsman. Di antaranya adalah tuntutan pendukuk Mesir! Setelah terjadi tarik ulur antara para Penuntut dan Khalifah Utsman, beliau menyetujui tuntutan mereka dengan mengangkat Muhammad putra Khalifah Abu Bakar; adik Siti Aisyah ra sebagai Gubernur negeri Mesir.
Utsman mengutus Muhammad bin Abu Bakar bersama penduduk Mesir pulang ke negeri mereka sebagai Gubernur. Tetapi mereka segera dikejutkan dengan temuan seorang kurir yang berjalan menuju Mesir dengan mengendarai kuda sang Khalifah! Setelah mereka pergoki dan mereka geledah, terjanya ia membawa sepucuk surat perintah dengan setelpel Kekahlifahan milik Khalifah Utsman yang berisikan agar Gubernur yang masih menjabat di Mesir itu segera memenggal kepada Muhammad bin Abu Bakar dan rombongannya!
Muhammmad bin Abu Bakkar dan rombongan segera kembali menuju kota Madinah. Setelah mengetahui hal, para pembesar sahabat seperti Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqâsh dan lainnya menjadi mengecam tindakan Utsman itu! Utsman mengelak dan menolak jika itu perbuatannya!
Kaum Muslimin mulai mengepung rumah Khalifah Utsman. Muhammad bin Abu Bakar melibatkan keluarga besar bani Taim dan juga selainnya. Thalhah dan Siti Aisyah mendukung tindakan Muhammad adiknya!
Dalam kitab al Bad’u wa at Târîkh disebutkan bahwa: Orang yang paling keras permusuhannya terhadap Utsman adalah Thalhah, Zubair, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah. Kaum Muhajirin dan Anshar menelantarkan Utsman dan tidak memberikan pembelaan yang berarti!
Dalam banyak kali, Siti Aisyah memprovokasi kaum Muslimin dengan melantangkan suara kerasnya dari dalam rumahnya seraya mengeluarkan beberapa benda peninggalan Rasulullah saw. seperti potongan rambut suci beliau, sepasang terompa dan baju milik Nabi saw. Aisyah berkata, “Perhatikan! Alangkah cepatnya kalian melupakan sunnah nabi kalian.” Ustman pun marah hingga tidak menyadari apa yang ia katakan![4]
Siti Aisyah memotong Khutbah Khalifah Utsman!
Para ulama banyak menyebutkan insiden ketegangan terjadi antara Siti Aisyah ra dengan Khalifah Utsman dan juga antara Khalifah Utsman sahabat-sabahat dan tokoh-tokoh lain seperti Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar!
Al Ya’qûbi dan al Balâdzuri melaporkan: “Ketika Utsman sedang berpidato di atas Mimbar di masjid Nabi swaw. Tiba-tiba Aisyah mengeluarkan baju Rasulullah saw. dan berkata dengan suara lantang, ‘Hai kaum Muslimin! Perhatikan ini adalah baju Rasulullah masih utuh belum lapuk, tetapi Utsman sudah melapukkan Sunnah beliau!’”
Utsman terkejut dan kemudia berkata, ‘Wahai Tuhan palingkan dariku makar jahat wanita-wanita itu, sesungguhnya tipu daya mereka itu dahsyat.’[5]
Ibnu A’tsum berkata, “Aisyah berkata kepada Utsman, ‘Hai Utsman, engkau memonopoli Baitul Mâl hanya untuk dirimu. Engkau bebaskan tangan-tangan bani Umayyah menguasai harta kaum Muslimin dan engkau jadikan mereka sebagai penguasa atas urusan kaum Muslimin, sementara engkau biarkan umat (Nabi) Muhammad dalam kesengsaran dan kesusahan hidup. Semoga Allah memutus darimu keberkahan langit dan menghalangimu dari kebaikan bumi. Andai bukan karena engkau masih shalat pasti mereka menyenbelihmu hidup-hidup seperti onta-onta disembelih!
Mendengar kecaman pedas itu dari Aisyah; istri Nabi saw., Utsman marah dan kemudian membacakan ayat 10 surah at Tahrim untuk Aisyah:
Setelah itu ketegangan terus memanas. Siti Aisyah menjadi tempat mengadu dan berlindung para sahabat dan tabi’in yang beroposisi dengan Utsman hingga pada akhirnya Utsman terbunuh! Sejarah mencatat bahwa tidak ada keluarga yang paling keras penentangannya terhadap Khalifah Utsman melebihi bani Taim; keluarga Abu Bakar!
Puncak Ketegangan dan Perseteruan antara Utsman Dan Aisyah!
Banyak ketidak-puasan terhadap pemerintahan Utsman yang mengarah kepada ketegangan antara para penuntut keadilan dan Khalifah Utsman. Di antaranya adalah tuntutan pendukuk Mesir! Setelah terjadi tarik ulur antara para Penuntut dan Khalifah Utsman, beliau menyetujui tuntutan mereka dengan mengangkat Muhammad putra Khalifah Abu Bakar; adik Siti Aisyah ra sebagai Gubernur negeri Mesir.
Utsman mengutus Muhammad bin Abu Bakar bersama penduduk Mesir pulang ke negeri mereka sebagai Gubernur. Tetapi mereka segera dikejutkan dengan temuan seorang kurir yang berjalan menuju Mesir dengan mengendarai kuda sang Khalifah! Setelah mereka pergoki dan mereka geledah, terjanya ia membawa sepucuk surat perintah dengan setelpel Kekahlifahan milik Khalifah Utsman yang berisikan agar Gubernur yang masih menjabat di Mesir itu segera memenggal kepada Muhammad bin Abu Bakar dan rombongannya!
Muhammmad bin Abu Bakkar dan rombongan segera kembali menuju kota Madinah. Setelah mengetahui hal, para pembesar sahabat seperti Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqâsh dan lainnya menjadi mengecam tindakan Utsman itu! Utsman mengelak dan menolak jika itu perbuatannya!
Kaum Muslimin mulai mengepung rumah Khalifah Utsman. Muhammad bin Abu Bakar melibatkan keluarga besar bani Taim dan juga selainnya. Thalhah dan Siti Aisyah mendukung tindakan Muhammad adiknya!
Dalam kitab al Bad’u wa at Târîkh disebutkan bahwa: Orang yang paling keras permusuhannya terhadap Utsman adalah Thalhah, Zubair, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah. Kaum Muhajirin dan Anshar menelantarkan Utsman dan tidak memberikan pembelaan yang berarti!
Dalam banyak kali, Siti Aisyah memprovokasi kaum Muslimin dengan melantangkan suara kerasnya dari dalam rumahnya seraya mengeluarkan beberapa benda peninggalan Rasulullah saw. seperti potongan rambut suci beliau, sepasang terompa dan baju milik Nabi saw. Aisyah berkata, “Perhatikan! Alangkah cepatnya kalian melupakan sunnah nabi kalian.” Ustman pun marah hingga tidak menyadari apa yang ia katakan![4]
Siti Aisyah memotong Khutbah Khalifah Utsman!
Para ulama banyak menyebutkan insiden ketegangan terjadi antara Siti Aisyah ra dengan Khalifah Utsman dan juga antara Khalifah Utsman sahabat-sabahat dan tokoh-tokoh lain seperti Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar!
Al Ya’qûbi dan al Balâdzuri melaporkan: “Ketika Utsman sedang berpidato di atas Mimbar di masjid Nabi swaw. Tiba-tiba Aisyah mengeluarkan baju Rasulullah saw. dan berkata dengan suara lantang, ‘Hai kaum Muslimin! Perhatikan ini adalah baju Rasulullah masih utuh belum lapuk, tetapi Utsman sudah melapukkan Sunnah beliau!’”
Utsman terkejut dan kemudia berkata, ‘Wahai Tuhan palingkan dariku makar jahat wanita-wanita itu, sesungguhnya tipu daya mereka itu dahsyat.’[5]
Ibnu A’tsum berkata, “Aisyah berkata kepada Utsman, ‘Hai Utsman, engkau memonopoli Baitul Mâl hanya untuk dirimu. Engkau bebaskan tangan-tangan bani Umayyah menguasai harta kaum Muslimin dan engkau jadikan mereka sebagai penguasa atas urusan kaum Muslimin, sementara engkau biarkan umat (Nabi) Muhammad dalam kesengsaran dan kesusahan hidup. Semoga Allah memutus darimu keberkahan langit dan menghalangimu dari kebaikan bumi. Andai bukan karena engkau masih shalat pasti mereka menyenbelihmu hidup-hidup seperti onta-onta disembelih!
Mendengar kecaman pedas itu dari Aisyah; istri Nabi saw., Utsman marah dan kemudian membacakan ayat 10 surah at Tahrim untuk Aisyah:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَ امْرَأَتَ لُوطٍ كانَتا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبادِنا صالِحَيْنِ فَخانَتاهُما فَلَمْ يُغْنِيا عَنْهُما مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَ قيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلينَ
“Allah membuat
istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di
bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu
kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada
dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada
keduanya);” Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.[6]
Penyikapan yang sangat pedas dan keras dari Khalifah Utsman terhadap Aisyah di atas dengan menyerupakan aisyah dengan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang kafir dan khianat terhadap suami mereka membuat Siti Aisyah tak terkendalikan murkanya atas Utsman. Siti Aisyah yang melihat Utsman telah jauh menyimpang dari tanggung jawab sebagai Khliafah suaminya; Nabi Muhammad saw. dan telah berbuat kejam terhadap keluarganya dengan memerintah membunuh Muhammad putra Khalifah Abu Bakar.
Karenanya Siti Aisyah ra segera mengeluarkan fatwa tegas yang sangat terkenal:
Penyikapan yang sangat pedas dan keras dari Khalifah Utsman terhadap Aisyah di atas dengan menyerupakan aisyah dengan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang kafir dan khianat terhadap suami mereka membuat Siti Aisyah tak terkendalikan murkanya atas Utsman. Siti Aisyah yang melihat Utsman telah jauh menyimpang dari tanggung jawab sebagai Khliafah suaminya; Nabi Muhammad saw. dan telah berbuat kejam terhadap keluarganya dengan memerintah membunuh Muhammad putra Khalifah Abu Bakar.
Karenanya Siti Aisyah ra segera mengeluarkan fatwa tegas yang sangat terkenal:
اقتلوا نَعْثَلافقد كفر
Bunuhlah si Na’tsal
itu sesungguhnya ia telah KAFIR![7]
Segera setelah diucapkannya oleh Ummul Mukmini Aisyah ra., kalimat itu menyebar dengan luas di kalangan masyarakat dan menjadi penghias bibir kaum Muslimin! Kini kaum Muslimin tidak takuk menyebut Khalifah Utsman derngan sebutan Na’tsal!
Na’tsal adalah seorang yahudi tua bangka yang tinggal di kota Madinah. Aisyah menyerupakan Utsman dengan si Yahudi tua bangka itu!
Kematian Mengerikan Usman .!
Pemberontakan makin mengganas dan tuntutan agar Utsman segera mundur dari jabatannya dan/atau menyerahkan para aparat yang bejat seperti Marwan putra Hakam yang dikutuk Nabi saw. untuk segera diadili! Semua usaha menengahi yang di antaranya dilakukan oleh Imam Ali as., antara pihak Utsman dan pihak Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah serta para pemberontak menemui jalan buntu. Utsman tetap bersikeras tidak akan menaggalkan baju kekhalifahan yang ia katakan tekah dianugerahkannya oleh Allah! Maka kini para pemberontak pun segera akan menjalankan fatwa Siti Aisyah janda sang Nabi mulia.
Di tengah-tengah berkecamukkan kemurkaan atas Khalifah Utsman atas sikapnya dan berbagai penyimpangannya dalam menjalankan tugas kekhalifahan tidak ada pilihan di hadapan para sahabat besar kecuali:
A) Menjauhkan diri dari kekacauan ini.
B) Mengangkat senjata.
Dan Thalhah, Muhammad bin Abu Bakat dan Abdurrahman bin Udais (seorang sahabat Nabi saw. yang berbaiat kepada beliau di Bai’at Ridhwân) serta beberapa sahabat lainnya termasuk mereka yang memilih sikap kedua. Mereka meghunuskan pedang di wajah Utsman; Khalifah kaum Muslimini!
Pada awalnya mereka yang dipimpin oleh Thalhah dkk mengepung rumah tempat tingga Khalifah Utsman. Pengepungan diperketat sehingga tidak setetes pun pasokan air dan logistik lainnya dapat masuk ke rumah Utsman! Di masa-masa pengepungan itu Thalhah dan Zubair yang menguasai dan mengendalikan urusan manusia.[8]
Ath Thabari melaporkan, “Ketika pengepungan Utsman semakin ketat dan ia pun dicegah dari air, Utsman mengutus utusan untuk menemui Ali meminta air. Ali datang menemui Thalhah dan berbicara kepadanya agar ia mengizinkan air masuk ke rumah Utsman. Ali marah keras kepada Thalhah dan akhirnya pasokan air pun dikirim Ali ke rumah Utsman.
Ketika Ali mengetahui keseriusan mereka untuk menghabisi nyawa Utsman, ia segera mengirim kedua putra kesayangannya; al Hasan dan al Husain dengan senjata lengkap untuk menjaga pintu rumah Utsman agar tidak seorang pun berani memaksa masuk! Terjadilah ketegangan di depan pintu rumah Utsman, Al Hasan sempat terluka.
Muhammad bin Abu Bakar pun khawatir bani Hasyim bangkit membela al Hasan dan al Husain dan gagallah niatan mereka untuk membunuh Utsman!
Karenanya Muhammad mulai mencari jalan untuk masuk ke rumah Utsman tidak melewati pintu depan. Ketika melihat bahwa mereka takut masuk ke rumah Utsman lewat pintu depan, Thalhah pun mengajak mereka menyerang rumah Utsman dari atap rumah sebagian orang Anshar. Thalhah mempersilahkan mereka melompat masuk ke rumah Utsman melalui rumah itu dan akhirnya mereka pun membunuh Utsman!
Rumah itu adalah milik ‘Amr bin Hazm.[9]
Al Balâdzuri melaporkan bahwa Thalhah mengepung Utsman dan tidak mengizinkan setettas air pun masuk ke rumah Utsman dan membiarkannya akan mati kehausan. Mengetahui hal itu, Ali yang berada di tempat peristirahatannya di luar kota Madinah segera mengutus utusan menemui Thalhah agar membiarkan Utsman menikmati air segar dari sumur miliknya di luar rumahnya, dan jangan kalian biarkan ia mati kehausan. Tetapi Thalhah bersikeras menolak![10]
Utsman pun terbunuh di tangan para pemberontak yang dipimpin oleh Thalhah, Muhammad binn Abu Bakar dan beberapa sahabat senior yang pernah membaiat Nabi saw. pada Bai’atu Ridhwan! Mendengar berita itu, Ali marah kepada kedua putranya dan berkata, “Bagaimana ini bisa terjadi sementara kalian aku tugaskan menjaga Utsman di depan pintu rumahnya?!” Thalhah memergokoi Ali dan berkata, ‘Hai Ali, mengapakah engkau?’ Ali berkata, ‘Atasmu laknat Allah, apakah seorang dari sahabat Rasulullah dibunuh…?! Thalhah menjawab, ‘Andai ia (Utsman) mau menyerahkan Marwan pasti ia tidak akan dibunuh…. Ali meninggalkannya dan pulang menuju rumahnya… “[11]
Jasad Utsman Dibiarkan Tiga Hari tak Dikuburkan!
Setelah Khalifah Utman terbunuh dengan tragis, jasadnya pun dibiarkan tergeletak. Para pemberontak yang dipimpin Thalhah dan para sahabat itu tidak mengizinkan jasad Utsman yang berlumuran darah itu dikebumikan! Setelah Imam Ali turun tangan dan menekan para pemberontak, barulah mereka mengizinkan jasad Utsman untuk dikebumikan. Utsman dikebumikan setelah tiga hari.
Tetapi ketika keluarganya memikul keranda jenazah Utsman keluar dari rumah untuk dibawa ke pemakaman, para pemberontak bersama sebagian penduduk kota suci Madinah menghadang dan melemparinya dengan batu, sehingga hampir-hampir keranda itu mereka tinggalkan. Ali kembali turun untuk mencegah mereka. Akhirnya keluarga Utsman berhasil membawa lari jenazah Utsman dan mengebumikannya di sebuah tempat bernama Husysyu Kaukab, tempat di mana orang-orang Yahudi biasa menguburkan orang-orang mati mereka. Ketika dikemudian hari Mu’awiyah berkuasa, ia menyambungkan tanah pemakaman yahudi (yang Utsman dikebumikan di sana) dengan memerintahkan merobohkan tembok pemisah dan memerintahkan kaum Muslimin dikebumikan di sekirtarnya sehingga bersambubnglah tempat dengan taman pemakaman Baqi’! Utsman berhasil di kebumikan di antara maghrib dan Isyâ’ dan tidak mengahdiri pemakamannya melainkan Marwan dan beberapa gelintir keluarga dekat Utsman termasuk putri kelima Utsman. Ia mengantar kepergian ayahnya dengan tangisan dan ratapan. Mendengarnya, kaum pemberontak melempari keranda ayahnya dengan batu! Demikian dilaporkan para ahli sejarah![12]
Dan dengan demikian berakhirlah seri permusuhan antara istri Nabi dan Usman !
Utsman terbunuh dengan pedang yang dihunuskan oleh Siti Aisyah (dengan fatwanya) dan diasah sehingga menjadi tajam oleh Thalhah dan dilaksanakan oleh dan Abdurrahman bin Udais Cs.
Innâ Lillahi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.
Ustad Husain Ardilla :
Ketika mensyarahi hadis bahwa Nabi berpidato sambil menunjuk rumah ke Aisyah,“Dari situlah fitnah akan keluar ….” para pensyarah sunni berusaha mempermainkan akal-akal kita dengan mempelintir hadis itu lalu mengatakan yang dimaksud adalah arah timur. Yaitu Irak maksudnya. Negeri itulah sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan. Peperangan demi peperangan terjadi di negeri itu. Perang Jamal yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubair serta sisa-sasa rezim Utsman seperti Marwan bin Hakam dengn alasan untuk menuntut balas atas kematian Utsman dan agar Khalifah Ali as. (yang terpilih secara aklamasi) segera menyerahkan para pembunuh Utsman untuk diadili!
Setelah para pemberontak yang dipimpin Aisyah dan Thalhal Cs. berhasil ditumpas oleh Ali as. Mu’awiyah bangkit memberontak juga dengan alasan yang sama; menunutu diserahkannya para pembunuh Khalifah Utsman! Setelahnya, kaum Khawarij memberontak melawan Ali di Nahrawan… kata pensyarah itu semua itu terjadi berawal dari terbunuhnya Utsman; Khalifah kaum Muslimin secara tragis!
Tidak sedikit dari mereka yang lugu -atau lebih tepatnya mereka yang senang dan bangga dibuat lugu dan dipermainkan akal warasnya oleh tukang syarah hadis itu- menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan tentang maksud sabda Nabi suci itu!
Tetapi sangatlah memprihatikan apa yang mereka katakan itu?! Apakah mereka tidak menyadari bahwa terbunuhnya Utsman itu adalah akibat dari fatwa Siti Aisyah, istri Nabi saw.?! Mungkinkah semua itu terjadi andai Siti Aisyah tidak menfatwakan:
Segera setelah diucapkannya oleh Ummul Mukmini Aisyah ra., kalimat itu menyebar dengan luas di kalangan masyarakat dan menjadi penghias bibir kaum Muslimin! Kini kaum Muslimin tidak takuk menyebut Khalifah Utsman derngan sebutan Na’tsal!
Na’tsal adalah seorang yahudi tua bangka yang tinggal di kota Madinah. Aisyah menyerupakan Utsman dengan si Yahudi tua bangka itu!
Kematian Mengerikan Usman .!
Pemberontakan makin mengganas dan tuntutan agar Utsman segera mundur dari jabatannya dan/atau menyerahkan para aparat yang bejat seperti Marwan putra Hakam yang dikutuk Nabi saw. untuk segera diadili! Semua usaha menengahi yang di antaranya dilakukan oleh Imam Ali as., antara pihak Utsman dan pihak Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah serta para pemberontak menemui jalan buntu. Utsman tetap bersikeras tidak akan menaggalkan baju kekhalifahan yang ia katakan tekah dianugerahkannya oleh Allah! Maka kini para pemberontak pun segera akan menjalankan fatwa Siti Aisyah janda sang Nabi mulia.
Di tengah-tengah berkecamukkan kemurkaan atas Khalifah Utsman atas sikapnya dan berbagai penyimpangannya dalam menjalankan tugas kekhalifahan tidak ada pilihan di hadapan para sahabat besar kecuali:
A) Menjauhkan diri dari kekacauan ini.
B) Mengangkat senjata.
Dan Thalhah, Muhammad bin Abu Bakat dan Abdurrahman bin Udais (seorang sahabat Nabi saw. yang berbaiat kepada beliau di Bai’at Ridhwân) serta beberapa sahabat lainnya termasuk mereka yang memilih sikap kedua. Mereka meghunuskan pedang di wajah Utsman; Khalifah kaum Muslimini!
Pada awalnya mereka yang dipimpin oleh Thalhah dkk mengepung rumah tempat tingga Khalifah Utsman. Pengepungan diperketat sehingga tidak setetes pun pasokan air dan logistik lainnya dapat masuk ke rumah Utsman! Di masa-masa pengepungan itu Thalhah dan Zubair yang menguasai dan mengendalikan urusan manusia.[8]
Ath Thabari melaporkan, “Ketika pengepungan Utsman semakin ketat dan ia pun dicegah dari air, Utsman mengutus utusan untuk menemui Ali meminta air. Ali datang menemui Thalhah dan berbicara kepadanya agar ia mengizinkan air masuk ke rumah Utsman. Ali marah keras kepada Thalhah dan akhirnya pasokan air pun dikirim Ali ke rumah Utsman.
Ketika Ali mengetahui keseriusan mereka untuk menghabisi nyawa Utsman, ia segera mengirim kedua putra kesayangannya; al Hasan dan al Husain dengan senjata lengkap untuk menjaga pintu rumah Utsman agar tidak seorang pun berani memaksa masuk! Terjadilah ketegangan di depan pintu rumah Utsman, Al Hasan sempat terluka.
Muhammad bin Abu Bakar pun khawatir bani Hasyim bangkit membela al Hasan dan al Husain dan gagallah niatan mereka untuk membunuh Utsman!
Karenanya Muhammad mulai mencari jalan untuk masuk ke rumah Utsman tidak melewati pintu depan. Ketika melihat bahwa mereka takut masuk ke rumah Utsman lewat pintu depan, Thalhah pun mengajak mereka menyerang rumah Utsman dari atap rumah sebagian orang Anshar. Thalhah mempersilahkan mereka melompat masuk ke rumah Utsman melalui rumah itu dan akhirnya mereka pun membunuh Utsman!
Rumah itu adalah milik ‘Amr bin Hazm.[9]
Al Balâdzuri melaporkan bahwa Thalhah mengepung Utsman dan tidak mengizinkan setettas air pun masuk ke rumah Utsman dan membiarkannya akan mati kehausan. Mengetahui hal itu, Ali yang berada di tempat peristirahatannya di luar kota Madinah segera mengutus utusan menemui Thalhah agar membiarkan Utsman menikmati air segar dari sumur miliknya di luar rumahnya, dan jangan kalian biarkan ia mati kehausan. Tetapi Thalhah bersikeras menolak![10]
Utsman pun terbunuh di tangan para pemberontak yang dipimpin oleh Thalhah, Muhammad binn Abu Bakar dan beberapa sahabat senior yang pernah membaiat Nabi saw. pada Bai’atu Ridhwan! Mendengar berita itu, Ali marah kepada kedua putranya dan berkata, “Bagaimana ini bisa terjadi sementara kalian aku tugaskan menjaga Utsman di depan pintu rumahnya?!” Thalhah memergokoi Ali dan berkata, ‘Hai Ali, mengapakah engkau?’ Ali berkata, ‘Atasmu laknat Allah, apakah seorang dari sahabat Rasulullah dibunuh…?! Thalhah menjawab, ‘Andai ia (Utsman) mau menyerahkan Marwan pasti ia tidak akan dibunuh…. Ali meninggalkannya dan pulang menuju rumahnya… “[11]
Jasad Utsman Dibiarkan Tiga Hari tak Dikuburkan!
Setelah Khalifah Utman terbunuh dengan tragis, jasadnya pun dibiarkan tergeletak. Para pemberontak yang dipimpin Thalhah dan para sahabat itu tidak mengizinkan jasad Utsman yang berlumuran darah itu dikebumikan! Setelah Imam Ali turun tangan dan menekan para pemberontak, barulah mereka mengizinkan jasad Utsman untuk dikebumikan. Utsman dikebumikan setelah tiga hari.
Tetapi ketika keluarganya memikul keranda jenazah Utsman keluar dari rumah untuk dibawa ke pemakaman, para pemberontak bersama sebagian penduduk kota suci Madinah menghadang dan melemparinya dengan batu, sehingga hampir-hampir keranda itu mereka tinggalkan. Ali kembali turun untuk mencegah mereka. Akhirnya keluarga Utsman berhasil membawa lari jenazah Utsman dan mengebumikannya di sebuah tempat bernama Husysyu Kaukab, tempat di mana orang-orang Yahudi biasa menguburkan orang-orang mati mereka. Ketika dikemudian hari Mu’awiyah berkuasa, ia menyambungkan tanah pemakaman yahudi (yang Utsman dikebumikan di sana) dengan memerintahkan merobohkan tembok pemisah dan memerintahkan kaum Muslimin dikebumikan di sekirtarnya sehingga bersambubnglah tempat dengan taman pemakaman Baqi’! Utsman berhasil di kebumikan di antara maghrib dan Isyâ’ dan tidak mengahdiri pemakamannya melainkan Marwan dan beberapa gelintir keluarga dekat Utsman termasuk putri kelima Utsman. Ia mengantar kepergian ayahnya dengan tangisan dan ratapan. Mendengarnya, kaum pemberontak melempari keranda ayahnya dengan batu! Demikian dilaporkan para ahli sejarah![12]
Dan dengan demikian berakhirlah seri permusuhan antara istri Nabi dan Usman !
Utsman terbunuh dengan pedang yang dihunuskan oleh Siti Aisyah (dengan fatwanya) dan diasah sehingga menjadi tajam oleh Thalhah dan dilaksanakan oleh dan Abdurrahman bin Udais Cs.
Innâ Lillahi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.
Ustad Husain Ardilla :
Ketika mensyarahi hadis bahwa Nabi berpidato sambil menunjuk rumah ke Aisyah,“Dari situlah fitnah akan keluar ….” para pensyarah sunni berusaha mempermainkan akal-akal kita dengan mempelintir hadis itu lalu mengatakan yang dimaksud adalah arah timur. Yaitu Irak maksudnya. Negeri itulah sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan. Peperangan demi peperangan terjadi di negeri itu. Perang Jamal yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubair serta sisa-sasa rezim Utsman seperti Marwan bin Hakam dengn alasan untuk menuntut balas atas kematian Utsman dan agar Khalifah Ali as. (yang terpilih secara aklamasi) segera menyerahkan para pembunuh Utsman untuk diadili!
Setelah para pemberontak yang dipimpin Aisyah dan Thalhal Cs. berhasil ditumpas oleh Ali as. Mu’awiyah bangkit memberontak juga dengan alasan yang sama; menunutu diserahkannya para pembunuh Khalifah Utsman! Setelahnya, kaum Khawarij memberontak melawan Ali di Nahrawan… kata pensyarah itu semua itu terjadi berawal dari terbunuhnya Utsman; Khalifah kaum Muslimin secara tragis!
Tidak sedikit dari mereka yang lugu -atau lebih tepatnya mereka yang senang dan bangga dibuat lugu dan dipermainkan akal warasnya oleh tukang syarah hadis itu- menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan tentang maksud sabda Nabi suci itu!
Tetapi sangatlah memprihatikan apa yang mereka katakan itu?! Apakah mereka tidak menyadari bahwa terbunuhnya Utsman itu adalah akibat dari fatwa Siti Aisyah, istri Nabi saw.?! Mungkinkah semua itu terjadi andai Siti Aisyah tidak menfatwakan:
Bunuhlah si Na’tsal
itu sesungguhnya ia telah KAFIR?!
Akankah terjadi peperangan Jamal jika Siti Asiyah, janda Nabi itu ta’at kepada Allah dan meneruti perintah-Nya agar tetap tinggal di daalam rumahnya?
Akankah terjadi peperangan Jamal jika Siti Asiyah, janda Nabi itu ta’at kepada Allah dan meneruti perintah-Nya agar tetap tinggal di daalam rumahnya?
وَ قَرْنَ في بُيُوتِكُنَّ وَ لا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى
“dan hendaklah
kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang Jahiliyah yang dahulu… .” (QS. Al Ahzâb [33];33)
Mengapakah mereka menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman, sementara mereka semualah orang-orang paling bertanggung jawab atas kematian Utsman?! Tidak ada yang layak dimintai pertanggung-jawaban atas kematian Utsman lebih dari mereka yang justru setelah kematiannya menuntut agar Ali menyerahkan para pembunuh itu?!
Tidak ada pribadi yang paling bersih dalam kasus terbunuhnya Utsman lebih dari Ali as.! Menuntut balas atas kematian Utsman hanya alasan palsu dan penipuan publik yang tak termaafkan! Semua hanya karena kebencian kepada Ali as. dan ketidak-sukaan mereka menyaksikan Ali sebagai Khalifah, sebab itu artinya: Ucapkan selamat tinggal bagi kepentingan-kepentingan dunia murahan yang menjadi incaran mereka!
Setelah kematian Utsman atas fatwa Siti Aisyah; istri Nabi saw., apakah Siti Aisyah akan juga melakukan provokasi umat agar melawan Ali menantu sang Nabi?!
Kebijakan pertama yang dilakukan Ali setelah jadi khalifah adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal.
Perang Jamal
Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib.
Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang. Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir.
Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu, tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang.
Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta. Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar.
Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.
Untuk mengetahui hal itu bacalah sejarah berbagai peristiwa setelah kematian Khalifah Utsman yang berujung pemberontakan yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubairyang dinamai dengan nama perang Jamal (perang onta) yang menelan korban tidak kurang dari 20 ribu jiwa umat Islam, umat suami Siti Aisyah, umat Nabi Muhammad saw.!
Mengapakah mereka menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman, sementara mereka semualah orang-orang paling bertanggung jawab atas kematian Utsman?! Tidak ada yang layak dimintai pertanggung-jawaban atas kematian Utsman lebih dari mereka yang justru setelah kematiannya menuntut agar Ali menyerahkan para pembunuh itu?!
Tidak ada pribadi yang paling bersih dalam kasus terbunuhnya Utsman lebih dari Ali as.! Menuntut balas atas kematian Utsman hanya alasan palsu dan penipuan publik yang tak termaafkan! Semua hanya karena kebencian kepada Ali as. dan ketidak-sukaan mereka menyaksikan Ali sebagai Khalifah, sebab itu artinya: Ucapkan selamat tinggal bagi kepentingan-kepentingan dunia murahan yang menjadi incaran mereka!
Setelah kematian Utsman atas fatwa Siti Aisyah; istri Nabi saw., apakah Siti Aisyah akan juga melakukan provokasi umat agar melawan Ali menantu sang Nabi?!
Kebijakan pertama yang dilakukan Ali setelah jadi khalifah adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal.
Perang Jamal
Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib.
Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang. Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir.
Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu, tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang.
Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta. Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar.
Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.
Untuk mengetahui hal itu bacalah sejarah berbagai peristiwa setelah kematian Khalifah Utsman yang berujung pemberontakan yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubairyang dinamai dengan nama perang Jamal (perang onta) yang menelan korban tidak kurang dari 20 ribu jiwa umat Islam, umat suami Siti Aisyah, umat Nabi Muhammad saw.!
[1] Syura yang beranggotakan enam anggota
yang dibentuk Khalifah Umar menjelang wafat beliau yang diatur dengan
syarat-syarat tertentu yang hingga kini masih menjadi bahan kajian dan ketidak
puasan sebagai peneliti sejarah.
[2] Baca selengkapnya dongeng pujian untuk
Utsman itu dalam Shahih Muslim,7/116, Musnad Ahmad,6/62, Kanzul ‘Ummâl,6/376
hadis noo. 5845 dan Muntakhab Kanzul ‘Ummâl,5/2 dan 17 dan buku-buku lainnya.
[3] Târîkh al Wa’qûbi,2/132 dan Târîkh Ibn
A’tsum:155.
[4] Ansâb al Asyrâf,5/205.
[5] Ibid.2/175.
[6] Kitab al Futûh; Ibnu A’tsum:115. Sangat
kuat kemungkinan bahwa kecaman Aisyah atas Utsman di atas beliau sampaikan
sebelum perintiwa ditemukannya surat perintah rahasia Khalifah Utsman agar
Muhammad bin Abu Bakar segera dipenggal kepalanya sesampainya di negeri Mesir,
seperti telah disinggung sebelumnya!
[7] Târîkh ath Thabari,4/477, Târîkh Ibn
A’tsum:155, al Kâmil; Ibnu al Atsîr,3/87, an Nihâyah, Ibnu al Atsîr,4/156 dan
sumber-sumber lain.
[8] Ansâb al Asyrâf,5/81 dan 90.
[9] Târîkh ath Thabari,5/122.
[10] Ansâb al Asyrâf,5/ 90.
[11] Târîkh ath Thabari,5/122.
[12] Ibnu Jarîr ath Thabari,5/143-144, Ibnu al
Atsîr,3/76 dan Ibnu A’tsum:159. Baca juga ar Riyâdh an Hadhirah; Muhibbudîn ath
Thabari,2/131-132.
